Selasa, 10 Juli 2012

24 Jam Bersama Nelayan Jaring Muroami



Hari itu sangat cerah secerah hatiku yang lagi bersinar bahagia karena baru 1 minggu melangsungkan pernikahan,mengucap janji suci untuk sehidup semati dengan seorang wanita pujaan hati...(lebay.com) aku berangkat sendiri menuju Gili Air desa Gili Indah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Barat. Desa Gili Indah biasa disebut dan lebih terkenal dengan nama Gili Matra atau kantorku menyebutnya Taman Wisata Perairan Gili Matra, sebuah Kawasan Konservasi Perairan Nasional yang dikelola oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang dimana aku bekerja sekarang. 
Sampai di Gili Air yang pertama kutemukan adalah staf Desa Gili Indah yang mengarahkanku untuk melakukan observasi dengan seorang dedengkot nelayan jaring muroami bernama Sanusi atau dia juga sering disebut wa' Uci. tidak puas dengan informasi dari staf desa akupun menghubungi Kepala Dusun Gili Air dan menanyakan siapa nelayan yang benar-benar murni nelayan jaring muroami di Gili Air, lagi-lagi aku di arahkan ke satu nama wa' Uci. Akhirnya akupun mengambil keputusan pasti bahwa nelayan yang akan aku observasi kali ini adalah wa' uci.
Sehabis shalat zuhur di masjid akupun langsung mnuju rumah wa' uci, dalam hati ku bertanya-tanya seperti apa orang yang paling di rekomendasikan oleh staf desa dan kepala dusun ini. Aku pun penuh rasa was-was apakah aku bisa diterima dengan baik di rumahnya. Rumah wa' uci tidak sulit kutemukan, karena dia emang banyak di kenal oleh masyarakat Gili Air selain itu juga luas dusun Gili Air yang hanya 170 hektar membuat saya tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menemukan rumahnya. Singkat cerita sampailah aku di Rumah wa' Uci. rumahnya cukup sederhana. Aku bisa sedikit ceritakan kondisi rumah wa' Uci. Rumah panggung berdindingkan anyaman bambu dan berlantaikan kayu yang merupakan ciri has dari rumah asli warga Gili Air, atap dari seng dan tinggi rumah panggung dari tanah 1,5 meter. dan tinggi keseluruhan rumah kurang lebih 5 meter. Di bawah rumah panggung tersebut tampak sebuah kompresor yang menurut wa' Uci itu milik tetangganya yang mau di perbaiki (ternyata selain nelayan dia juga bisa memperbaiki kompresor dan mesin perahu sedikit-sedikit).. Di sebelah rumah itu ada rumah yang cukup bagus, dinding rumah dari tembok, atap  dari genteng dan lantai sudah terpasang keramik. Setelah lama aku baru tau bahwa ternyata rumah bagus itu yang didalam nya ada tv radio dan perabot rumah adalah milik anaknya yang sekarang bekerja sebagai staf di sebuah dive shop di Gili Air. Saat itu wa' uci sedang berkumpul-kumpul dengan keluarga sambil menonton tv, sebenarnya aku sedikit ragu mendatanginya tapi aku berfikir lagi kalo bukan sekarang kapan lagi..
Aku pun memberanikan diri dengan ucapan Assalamualaikumwarahmatullahiwabarokaatuh..dan alhamdulillah akupun di sambut dengan sangat baik oleh wa' Uci dan keluarga.. Setelah bertemu aku baru tau bahwa ternyata wa' Uci sudah mengenalku, dia ikut pada saat kami melakukan sosialisasi kawasan konservasi yang di selenggarakan 2 minggu yang lalu di kantor desa. Tanpa perlu ada basabasi aku pun langsung dipersilahkan duduk di teras rumah. aku sangat bersyukur wa' Uci mau menerimaku dengan baik, akupun perkenalkan diri walaupun sedikit sudah di tau sama wa' Uci tapi aku menambahkan lagi tentang adanya program Pride yang sedang aku jalankan. Perbincanganpun dimulai dengan basa basi biasa seputar keluarga dan kondisi Gili Air saat ini. Sambil terus berbincang-bingcang tidak lama kemudia keluarlah istri wa' Uci dengan dua cangkir kopi yang ada di nampan plastik di tangannya. Sambil terus berbincang dan tanpa aku tanyakan, wa' Uci langsung bercerita banyak tentang apa yang dia kerjakan sebagai nelayan Gili Air, dan apa yang dia inginkan dengan kondisi saat ini.  Dia bercerita bagaimana dia membutuhkan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya, biaya makan sehari-hari keluarganya, dengan keterbatasan keterampilan yang dia miliki. Dia juga bercerita bagaimana sebenarnya dia ingin berhenti dari pekerjaan ini, tapi dia berfikir lagi betapa banyaknya keluarga yang dia tanggung dari kegiatan penangkapan ikan dengan muroami dan tidak ada modal untuk melakukan pekerjan yang lain, satu-satunya yang di miliki adalah peralatan jaring muroami yang dia sebutkan untuk modal awalnya dulu dia mengeluarkan biaya sebesar kurang lebih Rp 300.000.000. Dia punya anggota sebanyak 35 orang yang masing-masing memiliki keluarga...Anggota kelompoknya memang tidak semua dari Gili air, tetapi tetap saja dia merasa bertanggungjawab atas anggotanya, dan masih banyak lagi yang dia ceritakan tanpa aku minta, mungkin itu dia lakukan karena sebelumnya sudah tau bahwa aku bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Aku mengobrol dengannya sampai sore sekitar jam empat sore, akupun minta ijin shalat dan setelah shalat dia mengajakku menonton futsal dimna anaknya hari itu akan bertanding. Kejuaraan futsal diselenggarakan oleh pemerintah desa Gili Indah antar semua club futsal di 3 Gili. Kami pun berangkat menonton futsal yng lokasinya tidak jauh dari rumahnya. meonton futsal sampai azan magrib berkumandang dan setelah nonton kamipun pulang. Pada saat malam tiba tidak banyak yang di lakukan wa' Uci selain berkumpul dengan keluarga, akupun ikut nimbrung dalam keramaian keluarganya. Disaat kami sedang asik mengobrol, datanglah seorang warga tetangga dekat wa' Uci, dan ternyata dia juga seorang anggota dari kelompok jaring muroami yang lain. Di Gili Air terdapat 3 kelompok jaring muroami akan tetapi hanya dua yang masih dibilang aktif. setelah tetangga itu ada lagi seorang warga yang datang untuk ikut mengobrol, dia adalah salah seorang anggota dari wa' Uci yang besok akan ikut pergi melaut. Kami bertiga dan ditemani bersama beberapa anggota keluarga dari wa' Uci mengobrol di teras rumah anak nya wa' Uci. Banyak hal yang di bicarakan terutama mengenai bagaimana hubungan mereka yang banyak tidak sefaham dengan pengusaha di 3 Gili. Mereka banyak bercerita juga mengenai lahan mereka yang sudah banyak berkurang karena sebagian besar digunakan oleh pengusaha dive shop yang ada di 3 Gili untuk dijadikan lokasi atau spot dive bagi tamu-tamu mereka melakukan aktifitas diving. Mereka berfikir bayaran senilai Rp 6.000.000 yang di berikan oleh Gili eco trust selaku pengumpul dana untuk kegiatan lingkungan di Gili Matra tidak cukup untuk mereka (ada kesepakatan atau awig-awig antara kelompok jaring muroami dengan Gili eco Trust di Gili Trawangan untuk melindungi kawaasan di Gili Trawangan dari operasi jaring muroami. mungkin akan ada postingan yang lebih terperinci membahas ini di lain waktu) padahal klo saya fikir itu seharusnya tidak perlu diberikan kalo masing-masing mereka sudah sadar bahwa itu semua dilakukan juga untuk kepentingan mereka, dan anak cucu mereka nantinya.
Aku hanya bersikap diam dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka terhadap kurangnya pendapatan mereka..sambil terus merekam dan mencatat apasaja yang terjadi disana aku sesekali memberikan sedikit masukan dan informasi mengenai kondisi lingkungan Gili Matra saat ini. Masih banyak lagi yang dibicarakan yang semuanya tidak bisa aku tulis disini. Dari pertemuan malam itulah aku baru tau juga bahwa besok mereka akan pergi beroperasi menangkap ikan dengan jaring muroami, dan akupun menawarkan diri utuk ikut melihat aktifitas mereka, merekapun setuju. Sudah jam 10.00 malam dan akupun pamit isirahat karena aku juga melihat mereka sudah mengantuk dan mereka harus beristirahat untuk mengumpulkan tenaga guna kegiatannya besok. Mereka meminta saya datang ke pantai jam 07.00 pagi untuk langsung berangkat menuju lokasi penangkapan ikan.. kebetulan aku tidak menginap di rumah wa' uci dan aku hampir terlambat bangun sehingga hampir ketinggalan perahu.
Tepat jam 7 pagi 3 buah perahu dengan mesin tempel melaju membelah laut menuju ke utara Gili Air. Satu perahu berisi jaring dan beberapa anggota nelayan, satu lagi berisi satu kompresor dan kabelnya serta beberapa nelayan, dan satu perahu lagi berisi nelayan saja. Aku berada di perahu yang ada jaringnya. Lokasi tempat penangkapan ikan kali ini di satu tempat diantara Gili Meno  dan Gili trawangan, yang biasa disebut mereka dengan nama Taket Malang. Taket artinya dasar laut yang sedikit lebih dangkal dari dasar laut disekitarnya..sedangkan malang sya sendiri tidak tau kenapa disebut malang, aku lupa menanyakannya. Semuanya aku dokumentasikan, bagaimana cara mereka menggunakan jaring dan menggunakan kompressor. Selama ini aku hanya mendengar dari orang-orang saja yang mngatakan jaring muroami merusak terumbu karang.. dan dari hasil pengamatannku mereka memang sama sekali tidak perduli dengan lingkungan. Itu aku tau sebelum kami sampai di lokasi penangkapan dimana ketika mereka setelah sarapan dengan nasi bungkus, sisa bungkusan nasi dibuang begitu saja ke laut. Bisa di bayangkan sebanyak 33 orang sarapan dengan nasi bungkus yang sama dan berprilaku yang sama. Dalam hati aku merasa teriris melihat kondisi itu, tapi aku hanya bisa melihat dan merekam kejadian itu, tanpa berani berkata apa-apa, aku takut tugas observasi yang sedang ku jalankan rusak karena campur tanganku nantinya. Akhirnya aku hanya bisa meihat dan membiarkan saja. Operasi penangkapan terus dilakukan juga di tempat yang berbeda dan sampai jam 12.00 siang kami pun kembali ke darat. Ikan yang di dapat saat itu setengah dari isi perahu, yang menurut saya sudah sangat banyak. Akan tetapi menurut mereka pendapatan hari itu tergolong sedikit. Dalam perjalanan pulang mereka mebagi-bagikan hasil tangkapan untuk di bawa masing-masing. Sisa dari pembagian itu yang nantinya akan dijual dan uang hasil penjualan dipegang oleh ketua dan nanti waktu awal bulan puasa di bagikan berupa beras dan uang.
Di pinggir pantai beberapa ibu-ibu pengecer ikan sudah berkumpul di pinggir pantai untuk membeli ikan dari mereka. Akupun di kasi seikat ikan. Sepulang dari menangkap ikan, semua anggota termasuk wa' Uci kembali ke rumah masing-masing. akupun ikut bersama wa' Uci ke rumahnya dan meminta pamit pulang karena aku sudah merasa 24 jam melihat aktifitasnya.
Kesimpulannya aku sudah mendapatkan banyak informasi dari kegiatan observasi ini, aku tidak bisa menulis semuanya karena keterbatasan keterampilan dalam menulis...tapi aku akan mencoba menjadi lebih baik..Aku sangat berharap adanya masukan dari kawan-kawan yang membaca postingan ini. semoga bermanfaat. wassalam. Sabil Gili matra

1 komentar:

  1. Oom Sabily, bagus sekali dokumentasi ini. Mohon ijin, akan saya gunakan untuk bahan bacaan mahasiswa. Terima kasih. FS

    BalasHapus

silak komen disini..